Blog Gado-Gado_Multi Niche

Belajar dari 3 Kisah Mahasiswi Sukses ( Raeni, Darwati, dan Devi Triasari )

Belajar dari 3 Kisah Mahasiswi Sukses- Sobat Pembaca, dari dulu hingga sekarang media informasi dalam setiap tahunnya hampir selalu menyuguhkan kepada kita informasi yang unik dan menarik terkait dengan kesuksesan seorang Mahasiswa/i. Kisah yang diangkat pun mayoritas adalah sebuah kisah mahasiswa/i sukses yang latar belakangnya dari keluarga kurang mampu.

Pada Juni 2014 lalu, Indonesia dikasih sebuah hadiah becak antik dengan penumpang gadis cantik.



Raeni adalah wisudawan dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang ( Unnes ) . Saat dia mau ke lokasi wisuda diantar oleh ayahnya, Mugiyono, menggunakan becak. Ayah Raeni adalah seorang tukang becak yang penghasilannya berkisar anatar Rp.10.000,00- Rp.50.000,00 per hari. Ayah Raeni juga bekerja sebagai penjaga malam pada sebuah sekolah dengan gaji Rp. 450.000,00/bulan.

Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna. Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.

Gadis cantik yang bercita-cita menjadi guru ini, tekadnya sangat kuat demi masa depan dirinya dan keluarganya. Ayah Raeni sangat mendukung cita-cita Raeni agar cita-cita Raeni jadi kenyataan.

Rektor Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengatakan,apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimiliki untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” katanya.

Ia bahkan yakin, dalam waktu tak lama lagi akan terjadi kebangkitan kaum dhuafa. “Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini,” katanya.

Harapan itu terasa realistis karena jumlah penerima Bidikmisi lebih dari 50.000 per tahun. Unnes sendiri menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun.

Sumber : http://unnes.ac.id/berita/putri-tukang-becak-itu-jadi-wisudawan-terbaik-dengan-ipk-396/

Selanjutnya pada Mei 2015 Indonesia mendapat  2 Hadiah Kebanggaan Bangsa



Arsip Beritanya :

VIVA.co.id - Kisah sukses Darwati, mahasiswi terbaik yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau pramuwisma itu, menyita ribuan pasang mata di kampusnya. Namun perjuangan panjang Darwati memperoleh gelar sarjananya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Darwati yang terlahir dari anak seorang petani penggarap pasangan Sumijan dan Jasmi itu memiliki cara berbeda untuk tetap tekun belajar. Di sela kesibukannya menyelesaikan seabrek pekerjaan rumah tangga di tempatnya bekerja, dia selalu lekat dengan buku bacaan.

"Saya sadar waktu belajar memang sempit. Bahkan harus mencari-cari waktu luang. Biasanya habis magrib sambil nungguin bos, saya sambil baca-baca buku pelajaran," ujar gadis 23 tahun itu kepada VIVA.co.id di Semarang, Rabu, 20 Mei 2015.

Tak jarang, usai mengerjakan sejumlah pekerjaan rumah tangga seperti mengepel, mencuci, dan membersihkan halaman rumah, Darwati langsung bergelut dengan buku dan mengerjakan tugas perkuliahan yang menumpuk. Darwati juga selalu menjaga ibadahnya dan salat malam. Semua demi secercah harapan agar nilainya tetap bisa tinggi.

Darwati cukup beruntung memiliki majikan yang dermawan dan mengerti keadaannya. Majikannya adalah Lely Astati Bachrudin, seorang dokter gigi yang bertugas di Pemerintah Kabupaten Grobogan. Tiap akhir pekan, dia kerap mendapatkan uang saku untuk ongkos naik bus menuju kampusnya di Semarang. Jarak Grobogan ke Semarang sekira 70 kilometer.

Upah yang diterima Darwati selama sebulan selalu ditabung. Tiap akhir semester, simpanan itu selalu diambil untuk melunasi biaya semesternya sebesar Rp2,5 juta. Tak seperti mahasiswa lain pada umumnya, ia pun hidup sederhana dan tidak pernah menghabiskan uang hasil kerjanya untuk foya-foya.

"Awalnya saya mendapatkan gaji sebesar Rp300 ribu per bulan. Tapi, alhamdulillah, selalu naik tiap bulannya. Itu karena majikan saya baik hati dan dermawan," ujarnya.

Darwati kuliah pada jurusan Administrasi Bisnis, Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag) Semarang. Dia memanfaatkan kuliahnya dengan baik. Meski harus melalui perjuangan panjang, dia mampu memperoleh indeks prestasi komulatif (IPK) 3,70.

Ia menyelesaikan studi dengan judul skripsi Pengaruh Strategi Harga (Bauran Pemasaran) terhadap Keputusan Pembelian di Swalayan Luwes Purwodadi.

"Habis lulus S1, saya hanya ingin membahagiakan orang tua, mengangkat derajat orang tua agar bisa enak hidupnya," kataya.

Lely Astati Bachrudin, majikan Darwati, pun mengaku bangga dengan prestasi yang dimiliki gadis yang tiap hari bekerja di rumahnya itu. Usai prosesi wisuda, Lely bahkan memberi ucapan selamat kepada Darwati.

"Kami sangat bangga dengan prestasimu yang memperoleh gelar cumlaude. Kami selalu berdoa agar kamu selalu sukses menjemput masa depanmu," kata Lely.




Arsip Berita :

SURYA.co.id|SOLO - Keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk meraih cita-cita setinggi langit.

Hal inilah yang dialami peraih IPK tertinggi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Devi Triasari.

Devi Triasari memang tergolong dari kjeluarga tidak mampu.
Mahasiswi lulusan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut berhasil lulus menggondol predikat terbaik dan dengan waktu tercepat.

Ya, gadis kelahiran Ngawi 19 Desember 1991 tesebut berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 dalam waktu tiga tahun enam bulan.

"Lulus dari SMKN 1 Ngawi tahun 2010, saya kemudian tidak langsung kuliah karena mengetahui bahwa ayah dan ibu saya tidak mampu membiayai biaya pendidikan lebih tinggi. Saya kemudian bekerja di bagian administrasi sebuah perusahaan kontraktor di Magetan untuk membantu perekonomian keluarga. Ayah saya hanya seorang buruh dan ibu pembantu rumah tangga," tuturnya Jumat (29/5/2015).

Dalam keterbatasan tersebut, Devi mengakui tetap memiliki keinginan besar untuk mengangkat derajat kehidupan keluarganya

Selengkapnya silahkan kunjungi http://surabaya.tribunnews.com/2015/05/30/devi-triasari-mahasiswi-uns-peraih-ipk-399-suka-tidur-di-gudang?page=2

Baca juga Kisah Evi Masamba D'Academy 2 Indosiar


Facebook Twitter Google+

3 komentar

Waah waah sangat menginspirasi nih...

Ya mas Achmad, beritanya pun asli, makanya saya copas aza tanpa pengeditan.

Copas, tapi manfaatnya buat para pembaca gan, tambahin motifasi buat diri sendiri biar tambah semangat.....

Terimakasih atas kunjungan Sobat. Silakan berkomentar, namun tolong jangan menyertakan link aktif maupun pasif.

Back To Top